Transisi Fenomena Fanatisme Pendukung Klasik ke Era Modern

by -2 views

Bola99 – Setelah rezim Suharto jatuh pada tahun 1998, siaran televisi dan akses internet memberikan penggemar Indonesia wawasan tentang sepak bola, khususnya Serie A dari Italia. Juventus dan Milan telah menjadi tim yang sangat populer  dan menjadi cikal bakal kehadiran Pasoepati dari Persis Solo, yang memelopori pertunjukan kroteknik dan tifosi beraksen Indonesia.

Terkagum-kagum dengan banyak gaya dan momenntum bersemangat ini, tim lain dengan cepat untuk mengikuti gaya ini. Teknologi modern ini memainkan peran penting dalam fasilitasi jaringan hooligan transnasional dan difusi gaya budaya dan repertoar aksi yang terjadi dalam sepakbola.

Meskipun sisi fandom Indonesia ini telah hidup sehat, berita utama yang kerap diisi dengan kisah-kisah kekerasan dan korupsi. Aspek-aspek ini dengan cepat menaungi aspek positif dari sepak bola Indonesia dan berisiko menutupinya potensi perkembangan secara sepenuhnya.

Sisi gelap ini bermanifestasi dalam apa yang diperjuangkan oleh penggemar – klub mereka, kebanggaan, wilayah dan reputasi. Sementara kondisi kehidupan, rasa keterasingan dan kurangnya prospek berkontribusi besar pada potensi kekerasan yang merupakan saluran kekecewaan atas kesulitan. Korupsi telah menginfeksi segala sesuatu dalam kehidupan Indonesia dan sepakbola masih terus merengkuh dalam-dalam konsep busuk ini.

PSSI meski merupakan induk sepakbola Indonesia adalah sosok yang sangat sering dihina, diejek oleh penggemar yang melihat korupsi yang terliha jelas. Organisasi ini telh terknal rentan terhadap suap dan kroniisme, dengan niat untuk lebih berhutang pada politik daripada sepak bola.

PSSI adalah serigala jahat yang besar dalam sepak bola Indonesia dan keadaan baru-bar ini telah menjelaskan semuanya. Beberapa kasus korupsi tingkat tinggi telah mengungkapkan kedalamannya dan sulit untuk bahkan bagi FIFA untuk tidak menutup sementara organisasi ini.

Meski dibuka kembali dua tahun kemudian, PSSI adalah mikrokosmos dari pemerintahan negara raksasa. Fakta ini membuat potensi kekerasan semakin mengkhawatirkan dalam budaya sepakbola Indonesia. PSSI, seperti halnya pihak pemerintah, mengetahui akar masalahnya dan faktanya adalah, keduanya tidak cukup peduli untuk dapat melakukan apa pun untuk mendatangkan perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *